LAFKI Menyapa RSIA Bunda Palangka Raya: Perjalanan Menuju Mutu Pelayanan Ibu dan Anak yang Lebih Baik




Dalam kali tulisan ini, kita  akan mengulas pentingnya akreditasi rumah sakit dalam konteks pelayanan kesehatan ibu dan anak, dengan berfokus pada penelitian yang mengkaji status akreditasi rumah sakit di China dan dampaknya terhadap peningkatan pelayanan. Penelitian ini memiliki relevansi signifikan dalam konteks RSIA Bunda Palangka Raya, yang saat ini tengah menjalani proses survei akreditasi oleh surveior LAFKI.

Guna  memahami pentingnya akreditasi rumah sakit, mari kita pertimbangkan penelitian yang mengkaji status akreditasi rumah sakit dalam konteks pelayanan kesehatan ibu dan anak di China. Penelitian ini menggunakan metode pencocokan skor kecenderungan untuk membandingkan kelompok rumah sakit yang telah diakreditasi dengan kelompok yang belum diakreditasi.

Hasil penelitian tersebut menunjukkan perbedaan signifikan dalam sejumlah indikator yang mengukur kemampuan pelayanan rumah sakit. Rumah sakit yang telah diakreditasi memiliki indikator yang lebih tinggi dalam hal kunjungan darurat tahunan, jumlah jenis layanan kesehatan untuk wanita dan anak-anak, tingkat pemanfaatan tempat tidur, dan rata-rata tempat tidur harian per dokter yang praktik. Selain itu, indikator-indikator terkait manajemen layanan seperti proporsi institusi yang melakukan evaluasi pendidikan kesehatan, institusi yang memproduksi "Buku Kesehatan Ibu dan Anak" yang seragam, institusi yang melakukan kontrol kualitas informasi, serta analisis dan pemanfaatan informasi juga menunjukkan perbedaan yang signifikan, dengan kelompok yang telah diakreditasi memiliki nilai yang lebih tinggi.

Dalam analisis mendalam ini, kita akan mendengarkan pandangan dari dua ahli terkenal, Kurt Lewin dan Avedis Donabedian, yang telah berkontribusi besar dalam bidang manajemen kesehatan dan peningkatan mutu pelayanan.

Menurut Kurt Lewin, seorang pakar dalam teori perubahan sosial, akreditasi rumah sakit adalah salah satu langkah penting dalam proses perubahan dan peningkatan. "Proses akreditasi membantu rumah sakit mengidentifikasi kelemahan dan peluang perbaikan," kata Lewin. "Ini adalah langkah awal dalam mengubah budaya organisasi untuk mencapai pelayanan yang lebih baik."

Avedis Donabedian, seorang pakar dalam pengukuran kualitas pelayanan kesehatan, menggarisbawahi pentingnya mengukur hasil pelayanan dalam konteks akreditasi. "Akreditasi harus lebih dari sekadar tanda penghargaan," kata Donabedian. "Ini harus mengarah pada perbaikan nyata dalam kualitas perawatan dan keselamatan pasien."

Mari kita korelasikan temuan penelitian ini dengan situasi RSIA Bunda Palangka Raya yang saat ini sedang dalam proses akreditasi. Temuan bahwa rumah sakit yang telah diakreditasi memiliki indikator yang lebih tinggi dalam berbagai aspek pelayanan dan manajemen sangat relevan.

Dalam konteks RSIA Bunda, survei akreditasi yang sedang berlangsung oleh dr. Dedianto, SP.A, FISQua, FRSPH, FIHFAA  dan Dr. H. Ahyar Wahyudi, S.Kep.Ns.,M.Kep, FISQua, FRSPH, FIHFAA   harus dipandang sebagai peluang untuk melakukan perubahan positif. Temuan penelitian menunjukkan bahwa akreditasi dapat meningkatkan kualitas layanan, efisiensi, dan manajemen. Oleh karena itu, RSIA Bunda dapat menggunakan hasil survei akreditasi ini sebagai dasar untuk mengidentifikasi area-area yang memerlukan perbaikan.

Dalam hal  akreditasi rumah sakit, filsuf Albert Camus pernah berkata, "Dalam setiap kesulitan, ada kesempatan." Survei akreditasi bukan hanya evaluasi, tetapi juga peluang untuk tumbuh dan berkembang. Bagi RSIA Bunda, inilah saatnya untuk menghadapi tantangan dan melihatnya sebagai peluang untuk meningkatkan pelayanan kesehatan ibu dan anak.

Perumpamaan yang relevan adalah, "Akreditasi seperti ujian kesehatan bagi rumah sakit. Hasilnya mungkin tidak selalu sempurna, tetapi hasilnya membantu kita mengetahui di mana kita harus melakukan perubahan dan perbaikan."

Dalam refleksi untuk hari esok, mari kita mengingat bahwa akreditasi adalah langkah awal dalam perjalanan menuju pelayanan kesehatan yang lebih baik. Semangat dan motivasi harus menjadi pendorong utama bagi direktur RSIA Bunda, dr. Afrizal Noer, Sp.A, dan dr. Andini Zuitasari, Sp.OG, untuk terus meningkatkan mutu pelayanan.

Dengan komitmen untuk memanfaatkan temuan survei akreditasi sebagai landasan untuk perubahan positif, RSIA Bunda Palangka Raya dapat menjadi model rumah sakit yang memberikan pelayanan kesehatan ibu dan anak yang unggul. Dengan semangat yang kuat dan dukungan dari seluruh tim, masa depan RSIA Bunda adalah yang cerah, dan pelayanan kesehatan ibu dan anak di Palangka Raya akan semakin bermutu.

Belum ada Komentar untuk "LAFKI Menyapa RSIA Bunda Palangka Raya: Perjalanan Menuju Mutu Pelayanan Ibu dan Anak yang Lebih Baik"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel