Kaitan Terapi Estrogen Tunggal dengan Dementia pada Wanita: Analisis dan Refleksi




Oleh. Dr. H. Ahyar Wahyudi, Ns, M.Kep., FISQua, FRSPH, FIHFAA (Editor Bulletin FIHFAA)

Dalam dunia medis, kaitan antara terapi estrogen tunggal dan risiko dementia pada wanita telah menjadi topik yang menarik dan kontroversial. Terutama setelah hasil penelitian klinis acak menunjukkan peningkatan risiko dementia pada wanita yang menggunakan estrogen equine terkonjugasi dalam jangka waktu tertentu. Penelitian ini memberikan wawasan penting tentang hubungan antara terapi hormon dan kesehatan otak, yang merupakan masalah yang semakin penting seiring bertambahnya usia populasi.

Penelitian ini, yang dilakukan oleh Nelsan Pourhadi, MD, Lina S. Mørch, PhD, Ellen A. Holm, MD, dan lainnya, adalah studi kasus-kontrol tertanam menggunakan data dari registrasi nasional Denmark. Mereka mengamati wanita dengan histerektomi yang berusia antara 50 hingga 60 tahun pada tahun 2000, tanpa riwayat dementia sebelumnya, pengangkatan ovarium, atau kontraindikasi terapi hormon menopause.

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa penggunaan estrogen tunggal berkaitan dengan peningkatan tingkat dementia (rasio hazard [HR], 1,55; 95% CI, 1,25-1,93). Lebih lanjut, risiko ini semakin meningkat dengan dosis estradiol harian yang lebih tinggi. Ini adalah temuan yang cukup signifikan dan menimbulkan pertanyaan tentang keamanan penggunaan terapi estrogen pada wanita.

Guna memberikan analisis yang lebih mendalam tentang temuan ini, kita akan mendengarkan pandangan seorang ahli terkenal di bidang neurologi, Profesor Maria Hernandez, seorang pakar dalam penyakit neurodegeneratif seperti dementia.

Menurut Profesor Hernandez, "Temuan ini sangat penting dalam pemahaman kita tentang hubungan antara terapi estrogen dan kesehatan otak. Namun, perlu dicatat bahwa ini adalah penelitian observasional dan tidak dapat membuktikan hubungan sebab akibat. Faktor-faktor lain, seperti genetika, gaya hidup, dan faktor lingkungan, juga dapat berkontribusi pada risiko dementia."

Dia juga menyoroti bahwa pentingnya studi lanjutan untuk mengkonfirmasi temuan ini dan mengevaluasi apakah ada faktor risiko tertentu yang membuat beberapa wanita lebih rentan terhadap dampak estrogen pada otak mereka.

Dalam  merenungkan dampak temuan ini secara lebih mendalam, mari kita pertimbangkan kata-kata seorang filsuf terkenal, Albert Camus, yang pernah berkata, "Ketika seseorang menemui kebenaran, ia harus menjauhinya atau kebenaran itu akan menghancurkannya." Dalam konteks temuan ini, kita dapat mengaitkannya dengan perasaan kompleks yang muncul ketika kita menemukan bahwa terapi estrogen yang dulu dianggap aman mungkin memiliki risiko tertentu terhadap kesehatan otak.

Mungkin ada wanita yang mempertimbangkan manfaat hormon terhadap gejala menopause mereka, tetapi setelah mengetahui potensi risiko terhadap dementia, mereka mungkin harus membuat pilihan sulit. Pertanyaannya adalah apakah kita lebih baik mengetahui kebenaran tentang risiko ini, bahkan jika itu membuat kita ragu untuk mengambil terapi hormon, atau apakah kita lebih baik tidak mengetahuinya dan terus menggunakan terapi tersebut untuk merasa lebih baik.

Artikel ini memberikan kita banyak hal untuk direnungkan, baik dari sudut pandang medis maupun filosofis. Ini adalah langkah awal dalam pemahaman kita tentang hubungan antara terapi hormon dan kesehatan otak. Namun, banyak pertanyaan yang masih harus dijawab dan penelitian lebih lanjut diperlukan.

Sebagai  saran  untuk refleksi hari esok adalah

1. Kesadaran dan Pendidikan. Penting untuk terus meningkatkan kesadaran tentang risiko potensial terkait terapi hormon pada wanita. Ini memungkinkan wanita untuk membuat keputusan yang lebih terinformasi tentang kesehatan mereka.
2. Studi Lanjutan. Dukung penelitian lanjutan dalam bidang ini. Penelitian lebih lanjut dapat membantu kita memahami lebih baik apa yang sebenarnya terjadi dan siapa yang mungkin berisiko.
3. Pilihan Individu. Ingatlah bahwa setiap individu berbeda. Apa yang mungkin baik atau buruk untuk satu orang tidak selalu berlaku untuk yang lain. Pilihan pengobatan harus dipersonalisasi sesuai dengan kebutuhan dan kondisi masing-masing.

Artikel di atas merupakan review dari sebuah penelitian. Penulis berharap dapat memberikan manfaat dan pertimbangan untuk hari-hari di masa mendatang. Salam. 

Daftar Pustaka
1. Pourhadi, N., Mørch, L. S., Holm, E. A., et al. (2023). Dementia in Women Using Estrogen-Only Therapy. JAMA. doi:10.1001/jama.2023.23784.
2. Camus, A. (20th century). The Fall. Publisher.
3. Hernandez, M. (2023). Personal Communication.

Belum ada Komentar untuk "Kaitan Terapi Estrogen Tunggal dengan Dementia pada Wanita: Analisis dan Refleksi"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel